Kartu ucapan tidak bermakna apapun kecuali anda terlalu malas untuk menulis surat demi seorang perempuan yang telah memberikan segalanya kepada anda, melebih siapapun di dunia. - Anna Jarvis
Namanya Rindu Trisna br. Sihotang. Ia lahir 41 tahun yang lalu di Samosir sana. Berbagai kesusahan hidup sudah dikecap dan dilaluinya selama 41 tahun perjalanannya. Hingga hari ini betapa kesusahan-kesusahan itu seakan tak pernah ada jemunya untuk datang menghampirinya. Ia hanya seorang perempuan yang berusaha untuk hidup sebaik mungkin selama Tuhan masih memberinya waktu. Ia berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik untuk suaminya, dan menjadi ibu yang baik untuk ketiga anaknya. Benar, ia mempunyai tiga orang anak: satu putri dan dua putra.
Ia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, lulus SD pun ia tidak. Bukan karena ia tak ingin bersekolah, sama sekali bukan. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya bahwa ia sudah mengalami kesusahan-kesusahan bahkan sejak ia kecil. Masalahnya bukan hanya sesederhana permasalahan perekonomian, Kawan. Ia tak ingin segala kesusahan yang pernah terjadi padanya kembali terulang pada anaknya.
Ia menaruh harapan yang besar pada ketiga putra-putrinya.
Ia ingin anak-anaknya bertumbuh menjadi anak-anak yang baik dan cerdas.
Ia berusaha dengan seluruh kemampuannya untuk menyekolahkan ketiga anaknya, setinggi mungkin, sebaik mungkin.
Ia adalah seorang yang percaya bahwa pendidikan adalah bekal mendasar yang dibutuhkan oleh ketiga anaknya untuk menghadapi masa depan yang masih gelap dan misterius.
Ia tak punya kekayaan material yang meimpah yang bisa ia wariskan kepada ketiga anaknya.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah keyakinan, bahwa pendidikan bisa menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang minimal bisa menghidupi dirinya sendiri.
Dia Rindu Trisna br. Sihotang. Dia Ibuku. Ia sosok perempuan yang luar biasa. Dialah salah satu alasan mengapa sampai hari ini aku begitu bersemangat menjalani kehidupanku disini. Dialah alasan mengapa aku ingin menjadi manusia dengan pencapaian yang luar biasa dalam hidupku. Betapa aku ingin membanggakannya. Aku ingin suatu saat nanti membiarkannya beristirahat menikmati masa tuanya. Betapa aku ingin memeluk lelahnya. Ia sudah terlalu lelah dalam hidupnya. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih berkenan membiarkan sulungnya ini membalas budi padanya.
Selamat Hari Ibu Internasional, Mak!
Terimakasih sudah menjadi mamak yang baik untukku dan adik-adik. Terimakasih untuk cinta yang tak pernah usai mak. Doakan kami ya, Mak.
Comments
Post a Comment