Sekarang sudah hampir di penghujung tahun 2014, tapi saya masih saja menemui pribumi-pribumi yang punya ketakutan tak beralasan terhadap keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia. Etnis Tionghoa sudah lama di Indonesia dan sudah pula menjadi Warga Negara Indonesia, lantas apa yang harus ditakuti? Ada banyak pribumi yang paranoid terhadap keberadaan etnis Tionghoa. Katanya, lama-lama Indonesia akan seperti Malaysia dan Singapura dimana disana Tionghoa memegang perekonomian dan tampuk kekuasaan. Halah!
Aku memang selalu tak bisa tenang dan selalu begitu bergemuruh ketika melihat masih ada pribumi yang masih suka nyinyirin etnis Tionghoa untuk segala pencapaiannya di hari ini. Mengapa Tuan tak tingkatkan kualitas diri? Mengapa justru salahkan Tionghoa untuk pencapaiannya hari ini dan bukannya menyesali ketidakmampuan Tuan bersaing dengannya seraya memperbaiki diri supaya lebih menjual dan berdaya saing? Etnis Tionghoa di Indonesia adalah juga Warga Negara Indonesia, sama hak dan kewajibannya dengan Tuan. Tolonglah Tuan cerdas sedikit saja. Sedikit saja, kalau Tuan tak mampu cerdas lebih banyak.
Ada yang perlu saya tanyakan kepada Tuan. Apakah pribumi yang bejat lebih pantas daripada seorang Tionghoa yang bersih dan bertanggungjawab? Apakah di abad 21 ini menurut Tuan masih lebih penting untuk membahas etnisitas dibanding membangun Indonesia?
Ini bersambung, Tuan! Jawab dulu saja pertanyaan sahaya!
Ahad, 5 Oktober 2014
Catatan ini ditulis dengan suasana hati begitu bergemuruh dan tak sedikitpun bermaksud untuk bersikap rasis. Salam hormat saya untuk semua manusia di bumi nusantara yang mengedepankan nurani dan yang turut bahu-membahu membangun Indonesia.
Aku memang selalu tak bisa tenang dan selalu begitu bergemuruh ketika melihat masih ada pribumi yang masih suka nyinyirin etnis Tionghoa untuk segala pencapaiannya di hari ini. Mengapa Tuan tak tingkatkan kualitas diri? Mengapa justru salahkan Tionghoa untuk pencapaiannya hari ini dan bukannya menyesali ketidakmampuan Tuan bersaing dengannya seraya memperbaiki diri supaya lebih menjual dan berdaya saing? Etnis Tionghoa di Indonesia adalah juga Warga Negara Indonesia, sama hak dan kewajibannya dengan Tuan. Tolonglah Tuan cerdas sedikit saja. Sedikit saja, kalau Tuan tak mampu cerdas lebih banyak.
Ada yang perlu saya tanyakan kepada Tuan. Apakah pribumi yang bejat lebih pantas daripada seorang Tionghoa yang bersih dan bertanggungjawab? Apakah di abad 21 ini menurut Tuan masih lebih penting untuk membahas etnisitas dibanding membangun Indonesia?
Ini bersambung, Tuan! Jawab dulu saja pertanyaan sahaya!
Ahad, 5 Oktober 2014
Catatan ini ditulis dengan suasana hati begitu bergemuruh dan tak sedikitpun bermaksud untuk bersikap rasis. Salam hormat saya untuk semua manusia di bumi nusantara yang mengedepankan nurani dan yang turut bahu-membahu membangun Indonesia.
Comments
Post a Comment